Solusi arsitektur untuk memperbanyak ruang dengan konsep split level. Hal ini telah dibahas panjang pada Tabloid Bintang Home baru-baru ini, untuk rubrik Tematik. Artikel itu membahas tentang hasil peliputan Splow House di Jakarta, karya Delution. Dengan nara sumber Fahmy Desrizal Mahdy, Associates Director Delution. 

Ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya, tentang mendesain rumah dengan split level.

Karena lantai setengah berada di bawah level jalan, buat banyak biopori di halaman untuk memaksimalkan resapan. Lantai dasar yang selevel dengan jalan menjadi lantai 1. Lalu di atasnya berturut-turut, lantai 1 ½, 2, dan lantai teratas 2 ½. Antar lantai akan terlihat membentuk pola zigzag sehingga tercipta void tinggi di tengah bangunan, mulai dari lantai terbawah sampai lantai teratas. 

Agar terwujud sirkulasi udara yang baik, di lantai paling atas dilengkapi jendela kaca nako di dua sisinya. “Udara di bawah akan naik ke atas dan keluar melalui dua jendela di lantai 2 ½. Logika arsitek, udara yang masuk dari satu tempat, harus keluar di beda tempat. Bukan berputar di tempat yang sama,” terang Fahmy. 

Void juga menjadi ruang komunikasi yang membuat penghuni rumah dapat berinteraksi satu sama lain dari lantai yang berbeda.

 

“Sejauh ini rumah dempet yang pas untuk diterapkan konsep split level. Ini juga sebuah gagasan yang cocok untuk program rumah murah, hemat energi, dan green,” kata Fahmy. Penghuninya, keluarga kecil yang memiliki paling banyak dua anak. 

Walaupun memiliki banyak keunggulan dari segi pencahayaan dan penghawaan, juga efisiensi lahan, ada sebagian orang yang kurang menyukai konsep split level. “Alasannya, tidak suka karena tangganya banyak, jadi pegal untuk turun naik,” kata Fahmy. 

Di luar soal pega, sebenarnya konsep split level juga memiliki beberapa kekurangan. Di antaranya, carport yang tidak begitu luas, hanya bisa memuat mobil jenis city car; kurang aman untuk anak kecil karena antar lantai yang terbuka; tidak adanya ruang besar untuk berkumpul; dan tidak sesuai untuk segmen menengah ke atas yang menginginkan akses servis tersendiri. “Dan konsep split level hanya bisa diaplikasikan untuk bangun dari awal, bukan renovasi,” kata Fahmy.

(Bersambung ke bagian 3)

Rubrik Lainnya
loading...
Leave Comments
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi home.co.id. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.