Sentuhan tangan dingin Lily Admodirdjo melahirkan Pakis Culinary Group. Sebuah bisnis food and Beverage yang menaungi Warung Kita, Merah Delima, Kembang Goela, dan Bunga Rampai. Di 2017, ia berencana menambah satu outlet dengan nama dan konsep terbaru, mengembangkan usaha katering dan mewujudkan keinginan mempunyai pabrik bumbu sendiri. Bisnis Lily yang makin berkembang ini, berawal dari kesederhanaan pemikirannya. “Melakukan yang saya senangi dan kuasai. Harus fokus dan tanggung jawab,” kata Lily berbagi pengalaman.

A story of Young Lily

Lily bukan lahir dari keluarga pebisnis. Ibunya orang Belanda hanya Ibu Rumah Tangga biasa dan ayahnya beretnis Tionghoa yang berkecimpung dalam dunia kesehatan. Lily mengenang bahwa sejak kecil sampai kini ia adalah perempuan yang tidak bisa diam. Di sekolah dasar ia sudah senang berjualan lalu belajar menjahit untuk kebutuhan sendiri dan pesanan. Di 1970 an ia belajar make up dan mulai menekuni make up artist. Saat almarhum Prayudi sering mengadakan acara di rumah, sang adik ipar ini ikut sibuk memasak dan menyiapkan makanan untuk tamu. Setelah menikah dengan seorang desainer tekstil, ketimbang hanya menjadi ibu rumah tangga biasa. Lily ikut dengan suami berbisnis garmen dan fashion. Dari awalnya membantu, pada akhirnya banyak tawaran untuk mulai mengkomersialkan kebisaannya itu. Lily melakoninya dengan sungguh-sungguh, tidak heran ia pernah membuka salon dan flower shop untuk menyalurkan hobi dekorasi.

Challenging Herself

Saat 1999, Lily mendapat tawaran sebuah tempat kosong cukup besar di department store Jakarta. Tantangan setengah memaksa ini membuatnya putar otak, sehingga akhirnya ia memutuskan untuk menjadikannya food counter dengan layanan street food.”Kenapa harus makanan? Karena saya suka masak dan makan enak,” katanya beralasan. Konsep street food goes to mall yang ditawarkan tergolong baru saat itu. Ia tidak menyangka bahwa Warung Kita bisa meluas dan bertahan sampai sekarang, sekaligus menjadi pijakan untuk melebarkan bisnis F&B-nya. Ia bahkan perlu memiliki sistem baku sehingga harus mendirikan Pakis Culinary Group sebagai pusat dari semua kegiatan bisnis. “Lucu memang. Kepalanya (Pakis Culinary group) baru dibentuk setelah restaurant sudah stabil dan saya baru memulai katering,” ujar Lily sambil tertawa.

She Did It

Kunci keberhasilan Lily adalah hanya mengambil lahan bisnis yang ia kuasai. “Bisnis F&B seperti perjalanan hidup saya,” kata Lily. Saat membuka Warung Kita, pemikirannya sederhana. “Saya hanya ingin melihat gado-gado, ketoprak, baso, dan makanan pinggir jalan ada di mal dengan kualitas terbaik. Tidak disangka grafik penjualan terus naik,” ujar Lily. Hal serupa ia lakukan untuk restaurant selanjutnya.”Sebagai keluarga campuran. Sejak kecil saya sudah terbiasa dengan hidangan peranakan, kolonial, dan nusantara,” ceritanya. Ia mengambil tema kuliner peranakan China dari budaya ayahnya untuk Merah Delima. Di restaurant ketiga yaitu Kembang Goela, ia memberi tema kuliner Indonesia dengan sentuhan kolonial dari pihak Ibu. Terakhir Bunga Rampai, ia menunjukkan kecintaannya pada budaya nusantara dalam bentuk kuliner Indonesia otentik.

Bukan pekerjaan mudah, menghadirkan restaurant tematik tanpa ambiance historis. Ia dibantu desainer dan sahabat, Agam Riadi untuk menghidupkan suasana heritage. Tidak jarang beberapa koleksi guci, batik, kebaya encim, dan artwork koleksi pribadi turut di pajang di restaurant. Tidak ada kendala bagi Lily menjalankan bisnisnya,”Saya mempunyai keluarga yang membantu dan tim solid. Jangan cepat puas dengan pencapaian yang ada. Sampai sekarang, saya masih belajar, tidak malu, atau gengsi belajar dari orang lain bahkan karyawan,” kata Lily.

Rubrik Lainnya
loading...
Leave Comments
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi home.co.id. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.