Empat belas abad lalu, seorang pria tidur di bawah pohon kurma dalam keadaan lapar. Perutnya diganjal batu. Ia tidur di atas pelepah kurma kering, hingga kulitnya bergaris-garis. Ia juga menjahit bajunya sendiri dan memperbaiki sandalnya yang usang.

Ia tinggal di sebelah masjid yang dindingnya terbuat dari adonan lumpur yang mengering. Luasnya hanya 30 X 35 meter. Masjid itu berlantai pasir dan beratap langit. Atap dari pelepah kurma hanya menaungi area dekat dinding setinggi 3,6 meter. Saat panas terik, para sahabatnya merapat ke arah dinding agar terlindung dari sengatan matahari padang pasir.

Pria itu adalah Nabi Muhammad. Dan masjid sederhana itu adalah Masjid Nabawi.

Kini, siapapun yang datang ke masjid itu di Arab Saudi, tak akan melihat sisa-sisa kesederhanaan tersebut. Kini luasnya hampir 160 ribu meter persegi. Lantai pasir digantikan oleh marmer dan karpet tebal. Orang di dalamnya tak mungkin kepanasan karena ada atap beton dan 27 kubah yang bisa dibuka seperti di stadion bola. Di luar itu ada pula sejumlah payung raksasa yang bisa terbuka otomatis.

Pendingin ruangan selalu menyala. Ada 150 unit AC super besar yang disuplai oleh enam mesin raksasa yang diletakkan 7 kilometer dari masjid. Masing-masing menyemprotkan 3.400 ton udara dingin.

Tentu saja, itu semua ada alasannya. Masjid itu menampung hingga sejuta orang di musim haji. Tentu, tak ada yang ingin mereka menderita saat beribadah di dalamnya. Namun ada yang harus dibayar dengan semua itu: Tak mudah untuk meneladani kesederhanaan dan kerendahan hati saat kita dikepung oleh kemewahan dan kenikmatan.

Ini bukan hal baru. Ketika Islam sampai di Persia, Suriah, Baghdad, dan Spanyol beberapa abad lalu, terjadi transfer ilmu dan estetika arsitektural yang hebat. Peradaban di negeri-negeri itu sudah berkembang lebih dulu sebelum kedatangan orang Islam yang saat itu tinggal kota-kota di Hijaz (kini Saudi). Maklum, sebelum kedatangan Islam, negeri-negeri itu sudah lebih maju secara teknologi.

Transformasi teknologi dan estetika itu membuat para khalifah dan sultan tak lagi hidup di rumah sederhana, tapi di sebuah istana yang megah, mencontoh kemegahan emperium sebelumnya. Bahkan kemudian kaum muslimin mengembangkan dan menyempurnakan peradaban yang sebelumnya pernah ada. Perubaha juga terjadi pada masjid. Masjid tak lagi sederhana, tapi dibuat amat indah. Itulah mengapa muncul masjid-masjid seperti di Istambul hingga Isfahan.

 

“Para arsitek dan seniman di masa awal Islam sepertinya terdorong oleh keinginan untuk membuat hiasan dinding atau atap yang meningkatkan keimanan,” tulis Alain de Botton dalam bukunya, The Architecture of Happiness.

Menurutnya, karena Tuhan adalah Sang Maha Tahu, sumber segala ilmu pengetahuan, maka motif yang munculpun bentuk-bentuk geometri yang sangat matematis dan kompleks. Kadang saat melihatnya, ada efek hipnosis. De Botton menyatakan bahwa ornamen yang sangat simetris itu memunculkan keindahan yang tampaknya tidak bermakna tapi bisa membius, suatu yang tampaknya tak mungkin dilakukan oleh otak manusia.

De Botton memperhatikan bahwa di sejumlah masjid dan gereja, keindahan tampaknya sengaja ditonjolkan untuk memberi efek positif bagi siapapun yang melihatnya. “Dalam kebudayaan Kristen dan Islam di masa lalu, para ahli teologi menganggap bahwa arsitektur akan memiliki dampak yang baik. Sebuah bangunan yang baik dan indah akan menuntun kepada kesalehan.”

Ia kemudian mengutip pernyataan Ibn Sina (Avicenna, 980-1037 M) yang mengatakan bahwa mengagumi mosaik yang rapi dan simetris itu seperti mengakui keagungan Tuhan. “Tuhan adalah sumber dari semua keindahan,” kata Ibn Sina.

Apakah keindahan memang menuntun kita pada kesalehan?

Bisa jadi. Tapi, terkadang kita salah memahami. Kesalehan dianggap datang dari bentuknya yang spesifik, seperti kubah, lengkungan, motif arabesque pada dinding. Masjid harus punya kubah. Kalau tidak, itu bukan masjid namanya. Seorang arsitek pernah menyatakan kekesalannya karena konsep masjid cantik yang dibuatnya--dengan atap yang hampir sejajar dengan tanah dan ditumbuhi rumputan--ditolak oleh pemberi proyek. Sebabnya satu, “Kok enggak ada kubahnya?”

Padahal, sebuah masjid yang bagus dan bisa mendatangkan efek positif, mungkin tak perlu kubah. Kita tentu bisa membandingkannya dengan masjid pendam Cami Sancaklar di Istanbul, Turki, yang mewah, menakjubkan, dan karenanya memenangi Building of The Year 2015 dari Hewlett-Packard. Tak ada kubah di masjid yang didesain oleh Emre Arolat Architects itu. Bentuknya malah mirip bahtera Nabi Nuh.

Keindahan juga tidak mesti datang dari kemewahannya. Sebuah masjid sederhana dengan bata ekspos di Dhakka, Bangladesh, memenangi Aga Khan Award 2016. Namanya Bait ar-Rouf, dibangun dengan tujuan untuk tidak menonjol dari lingkungan sekitar.

Meniru bentuk tanpa mentransformasi esensinya justru bisa mendatangkan keburukan. Bangunan itu akan terlihat plastik, tiruan, dan tidak jujur.

Rubrik Lainnya
loading...
Leave Comments
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi home.co.id. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.