Apa arti penting sebuah bangunan kuno yang hampir runtuh? Kenapa jutaan dolar harus digelontorkan untuk merenovasinya?


Satu bulan setelah pasukan Amerika Serikat mengambil alih Kabul dari Taliban pada 2001, saya memasuki ibukota Afghanistan yang porak poranda itu. Kabul benar-benar berantakan. Hampir tidak ada bangunan besar yang dibiarkan utuh. Jalanan becek dan berlubang. Listrik jarang menyala. Siapapun yang datang ke sana waktu itu tak akan bisa menumbuhkan setitikpun optimisme dalam hatinya.

Ini adalah kota yang sebentar lagi akan terhapus dari peta, begitu pikir saya saat itu.

Satu-satunya yang bisa memberikan optimisme adalah keriangan anak-anak yang bermain di manapun dan dengan apapun. Saya sempat berhenti lama melihat anak-anak usia SD dan SMP bermain kriket di sebuah bangunan yang hampir runtuh. Mereka bermain di lapangan yang benar-benar berdebu. Dengan sherwal-qamis (pakaian tradisional Afghanistan) mereka melempar dan memukul bola layaknya Imran Khan.

Salah seorang dari mereka melemparkan bola kepada saya dan mengajak bermain. Saya sama sekali tak memahami permainan ini, bahkan tidak pernah memahami keasyikan melempar bola berjam-jam (hingga perlu turun minum teh segala). Toh saya mencobanya dan ditertawakan. Sambil nyengir saya kembali ke pinggir lapangan dan menonton mereka.

Lama kelamaan saya tak sepenuhnya memperhatikan permainan kriket mereka. Fokus saya berpindah ke bangunan berkubah empat yang menjadi latar belakang. Beberapa dindingnya sudah runtuh, yang masih berdiri penuh bopeng bekas peluru. Kubahnya jebol tinggal kerangka. Perang selama empat dasawarsa tentu menggerus bangunan tersebut.

Tapi saya yakin, bangunan ini dulunya pasti sangat indah. Arsitekturnya sama sekali tidak seperti bangunan besar pada umumnya di Afghanistan yang dibangun di era Komunis pimpinan Najibullah (yang dibuat tergesa-gesa dan kaku). Ini lebih mirip istana. “Ya, ini memang dulunya sebuah istana,” kata seorang pemilik studio foto yang mengantar saya keliling Kabul. Tapi dia tak yakin itu istana apa.

Belakangan saya baru tahu, itu adalah Istana Darulaman. Darulaman berarti rumah yang aman atau rumah Si Aman, karena dibangun oleh Raja Amanullah Khan pada awal abad ke-20. Tapi tak ada raja yang pernah tingal di sana karena Amanullah keburu ditumbangkan oleh para mulla (ulama) pada 1929, akibat dia membawa kemodernan ala Barat.

Didesain oleh arsitek Prancis dan Jerman, istana ini menggabungkan gaya neoklasik Eropa dengan pengaruh dari Moghul dan Timur. Istana dengan 150 kamar ini direncanakan menjadi gedung terbesar di Afghanistan dan yang pertama yang memiliki pemanas sentral serta air kran. Sempat direstorasi pada masa Raja Mohammad Zahir Shah, istana ini kemudian menyaksikan kehancuran Afghanistan bersamanya.

Kini, pemerintah Afghanistan sedang mengupayakan pemugaran istana tersebut. Dibutuhkan biaya sekitar US$ 25 juta. Biaya ini jauh lebih murah (hanya sepersepuluh) dari yang dianggarkan sebuah badan Amerika Serikat. “Murahnya” restorasi ini bisa terjadi karena semua proses pembenahan memakai tenaga Afghanistan, tanpa bantuan tenaga asing satupun.

Meski demikian, tetap saja itu adalah biaya yang besar. Apalagi untuk Afghanistan yang baru keluar dari perang. Mungkin orang berpikir bahwa biaya sebesar itu bisa dimanfaatkan untuk hal lain, misalnya membangun kakus atau sanitasi yang baik di negeri itu. Dua pekan di sana, saya merasakan bagaimana menyiksanya buang air besar atau keramas dengan air bersih.

Kenapa Afghanistan menghabiskan begitu banyak uang untuk bangunan yang nantinya hanya akan menjadi museum dan tempat dilaksanakannya acara-acara nasional? Padahal di luar sana 42 persen dari 33 juta rakyatnya hidup dengan kurang dari US$1 per hari. Satu dolar per hari atau hanya bisa belanja kurang dari Rp 13 ribu.

Jawabannya mungkin sama dengan saat kita bertanya ke Sukarno kenapa dia membangun sejumah bangunan yang cukup wah pada zamannya, seperti Monumen Nasional, Masjid Istiqlal, Gedung DPR, dan lain sebagainya.

Ini tentu bisa jadi perdebatan panjang, tapi bangunan tidak hanya memiliki fungsi praktis. Bangunan adalah juga simbol. Banyak bangsa mencari cantolan pada sejarah di masa lalu, kejayaan pada generas sebelumnya, lewat bangunan. Terutama saat tak banyak yang bisa dibanggakan dari masa kini. Mesir membanggakan Piramida di Giza, Indonesia mencari akar pada Borobudur, Kamboja pada Angkor Wat, Peru pada Machu Pichu.

Sejarah yang tertulis pada buku, nilai dan budaya yang mungkin sudah mulai berubah, patriotisme, mungkin bagi banyak orang adalah hal yang samar-samar. Perlu sesuatu yang hadir secara fisik, jejeg di atas bumi, bisa dilihat dan dikagumi.

Mereka mungkin berharap, kebanggaan akan Afghanistan akan muncul dari bangunan ini. Kebanggaan adalah barang langka di negeri yang hancur akibat perang selama 40 tahun. Artinya, sebagian besar penduduk negeri itu hidup dalam perang dan tak pernah melihat dunia yang damai.Bagi mereka, kebanggaan tak mudah ditumbuhkan.

Rubrik Lainnya
loading...
Leave Comments
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi home.co.id. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.