Pada 26 April lalu, arsitek I.M. Pei merayakan ulang tahun ke-100. Dia mungkin saat ini merupakan arsitek tertua. Selama satu abad hidupnya, Pei mendesain banyak gedung yang mengundang pujian juga kritik tajam. Salah satunya adalah piramida kaca di depan Museum Louvre, Paris, yang bisa kita tonton di adegan terakhir film The Da Vinci Vode.

Ieoh Ming Pei lahir pada 26 April 1917 di Provinsi Suzhou, Cina. Setahun setelah kelahirannya, keluarganya pindah ke Hong Kong dan kemudian ke Shanghai, mengikuti ayahnya yang bekerja di bidang perbankan. Seperti layaknya pria Asia tradisional, ayah Pei tidak dekat dengan anak-anaknya. Pei lebih akrab dengan ibunya, seorang penganut Buddha yang taat dan kerap melakukan meditasi bersama anak-anaknya.

Saat berumur 10 tahun, ibunya meninggal karena kanker. Pei hidup berpisah dari ayahnya, tapi tetap tinggal di Shanghai. Kota yang berjulukan Paris of the East karena banyaknya elemen internasional dan bangunan indah itu membuatnya jatuh cinta untuk pertamakalinya pada arsitektur.

Itulah yang kemudian membuat dia memilih belajar arsitektur di University of Pennsylvania,. Namun alasannya pindah ke Amerika bukan hanya itu. Pei muda yang suka menonton film-film Hollywood juga menganggap keren dan asik hidup di Amerika. “Bagi saya yang masih muda, ada keinginan untuk menjadi bagian dari kehidupan yang ada di film, meski saya tahu itu bukanlah kehidupan yang nyata. Saya memutuskan, inilah negeri saya,” kata dia dalam buku Mandarin der Moderne – Der Architekt I.M. Pei, karya Gero von Boehm.

Pada usia 18 tahun, dengan naik kapal, Pei sampai di Amerika. Namun ia kecewa karena di universitas yang dipilihnya para dosen masih berkutat pada arsitektur neoklasik bergaya Beaux-Arts. Padahal, Pei lebih menginginkan arsitektur modern. Dia kemudian memutuskan untuk meninggalkan arsitektur dan mendaftar pada bidang teknik mesin di  Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Tapi nasib tampaknya menentukan dia harus menjadi arsitek. Di MIT, dekan arsitektur melihat keunggulan Pei di bidang desain dan memintanya untuk kembali memilih arsitektur. Masalahnya, MIT juga masih sibuk dengan Beaux-Arts. Pei yang kehilangan motivasi lebih sering membenamkan diri di perpustakaan. Di sanalah dia menemukan tiga buku yang lebih menginspirasinya. Buku-buku tentang arsitek Prancis, Charles-Édouard Jeanneret-Gris, yang kita kenal sebagai Le Corbusier.

Pei terpesona oleh gaya internasional Le Corbusier dengan karakter yang lebih simpel dan menggunakan banyak kaca serta logam. Kecintaannya pada Le Corbusier semakin kuat saat arsitek Prancis itu datang ke MIT pada 1935. “Kuliah dua hari bersama Le Corbusier merupakan momen terpenting di masa pendidikan arsitektur saya,” kata Pei. Di kemudian hari, saat menjadi arsitek, jejak Le Corbusier ini akan terlihat lebih jelas. Termasuk saat membuat Balaikota Dallas yang terinspirasi oleh karya Le Corbusier, Pengadilan Tinggi di Chandigarh, India.

Perang Dunia II telah memberi banyak andil pada hidupnya. Pertama, dia batal pulang ke Cina setelah mendapat gelar sarjana, karena perang masih berkobar. Kedua, Nazi Jerman tidak menyukai sekolah seni Bauhaus yang melahirkan gerakan seni dan arsitektur modern di Eropa. Nazi yang fasis menganggap sekolah ini sebagai markas para intelektual komunis. Dua pendirinya, Walter Gropius dan Marcel Breuer, hijrah ke Amerika dan bergabung dengan  Graduate School of Design (GSD) di Harvard.

Pei yang saat itu mengambil gelar master di GSD tentu amat senang. Dia seperti mendapat angin segar untuk kabur dari gaya Beaux-Arts di GSD. Salah satu proyek di GSD adalah museum seni di Shanghai. Pei ingin membuat sebuah bangunan dengan mood tradisional Cina tanpa menggunakan material ataupun gaya tradisional negeri itu. Bangunannya benar-benar modern, tapi mengelilingi sebuah taman seperti layaknya istana Cina.

Setelah mendapatkan gelar master di bidang arsitektur, ada banyak bangunan yang dibuat oleh Pei. Selalu bangunan yang tidak biasa, menuai kritik sekaligus pujian, dan seringkali mahal. Beberapa bangunan juga memiliki masalah serius. Salah satunya adalah Hancock Tower di New England yang diresmikan pada 1976.

Sejumlah masalah muncul sejak gedung ini dalam proses pembangunan. Beberapa panel kaca pecah diterjang badai dalam masa konstruksi pada 1973. Di antaranya bahkan copot dan jatuh, untungnya tak ada korban. Problem ini berujung di pengadilan--pemilik gedung menuntut Pei--dan baru selesai pada 1981.

Satu dekade sebelumnya, Pei mulai dikenal setelah dia menangani proyek Kennedy Library, sebuah gedung yang didirikan untuk mengenang Presiden AS John F. Kennedy. Adalah sang janda, Jacqueline yang memilih Pei untuk mengerjakannya. “Dia tidak hanya memiliki satu cara untuk memecahkan masalah. Dia juga membuat semua anggota komite berpikir untuk membuat bangunan ini terlihat cantik,” kata Jacqueline.

Di sinilah untuk pertama kalinya Pei menggunakan piramida raksasa terbuat dari kaca. Setelah beberapa puluh tahun piramida itu memang dibongkar, tapi Kennedy Library tetap dianggap ikonik dan menjadi salah satu karya Pei yang mendunia. Dari sana namanya dikenal lebih luas.

Itulah mengapa saat Presiden Prancis Francois Mitterand memutuskan untuk meremajakan Louvre, Pei ikut digaet dalam tim. Pei yang kemudian memutuskan untuk menambahkan piramida kaca (satu yang menghadap atas dan satu lagi terbalik) di depan Louvre. Sejumlah kritik keras muncul, dari yang bermutu hingga yang rasis (“Arsitek Cina-Amerika mana mungkin mampu menghayati sejarah budaya Prancis?”).

Proyek itu tetap berjalan dan sejumlah kritik keras melunak. Bahkan ada yang berbalik memuji karya tersebut. “Piramida yang dulu amat menakutkan kini dipuja,” tulis Le Quotidien de Paris. Piramida Louvre adalah proyek Pei yang paling dikenal.

Pei memang dikenal karena sejumlah proyek yang berhubungan dengan budaya: museum, pusat seni, perpustakaan, pusat penelitian, kampus. Selain Kennedy Library dan Louvre, Pei juga terlibat dalam  desain Herbert F. Johnson Museum of Art, Meyerson Symphony Center yang berbentuk piramida, Rock and Roll Hall of Fame yang juga terlihat seperti pidamida dari satu sisi, Macau Science Center, Museum of Islamic Art (Doha), Suzhou Museum (Cina), Musée d'Art Moderne Grand-Duc Jean (Luxembourg), Zeughaus Wing at Deutsches Historisches Museum (Jerman), Miho Museum (Jepang).

Juga National Gallery East Building di Washington DC. Selain mengatasi masalah tanah yang berbentuk segitiga, Pei bersama dua arsitek muda juga mengatasi lalu lintas manusia di dalam gedung. Ia membuat lobby besar di tengah dengan atap kaca yang menawan agar siapapun yang selesai dengan satu pameran bisa masuk ke ruangan itu dan masuk ke pameran di ruang lain. “Museum modern harus memiliki perhatian besar pada pendidikan, terutama generasi muda,” kata Pei. Di situlah, sebagai arsitek, dia merasa ikut bertanggungjawab pada pendidkan.

Pei karenanya mendapatkan banyak penghargaan. Salah satunya adalah Pritzker Prize (1983) yang merupakan “Nobel Prize”-nya arsitektur. “Ieoh Ming Pei telah memberikan kepada abad ini sejumlah ruang interior dan bentuk eksterior yang paling indah. Kemampuannya beradaptasi dan kecakapannya dalam menggunakan material telah sampai ke tahap yang puitis,” kata juri dalam statemennya.

Rubrik Lainnya
loading...
Leave Comments
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi home.co.id. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.