Urban farming merupakan konsep memindahkan pertanian konvensional ke pertanian perkotaan. Yang jadi pembeda dalam hal ini adalah pelaku dan media tanamnya. Pertanian konvensional lebih berorientasi pada hasil produksi, sedangkan urban farming lebih pada karakter pelakunya yakni masyarakat urban.

Banyak manfaat yang bisa didapat dari urban farming. Selain mempercantik rumah dengan tampilan yang lebih segar, tanaman sayur yang tumbuh juga bisa dipakai untuk konsumsi pribadi. Setidaknya, ini akan mengurangi beban belanja, terutama bila harga beberapa jenis sayuran sedang tinggi.

Terlepas dari konsep dan manfaat, jenis tanaman sayur apa saja yang bisa ditanam untuk urban farming ini? Berikut ulasannya.

Cabai rawit


Saat harga sedang tinggi, sekilo cabai rawit bisa dihargai hingga Rp 100 ribuan. Maka dengan membudidaya tanaman ini di rumah, setidaknya akan bisa membantu untuk menekan pengeluaran untuk membeli kebutuhan cabai di rumah.

Di sisi lain, cabai rawit cukup mudah ditanam di rumah. Tak perlu lahan luas, cukup pot dengan media tanam yang baik, niscaya cabai rawit tumbuh subur. Jadi, meski harga sedang mahal, tentu kegemaran makan pedas tak perlu terhenti. Terlebih, tanaman ini tumbuh subur di hampir semua habitat dengan mudah.

Terong


Bagi yang masih punya lahan pekarangan kosong, tumbuhan yang dalam bahasa Inggris disebut  eggplant ini pas untuk ditanam. Bibit yang mudah didapat serta kecepatan tumbuh hingga berbuah, bisa jadi pertimbangan tersendiri untuk menanamnya. Perawatannya pun tak rewel, asal habitat pas serta penyiraman benar, maka kegemaran makan sayur tak lagi terhambat meski tak pergi ke pasar.

Rubrik Lainnya
loading...
Leave Comments
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi home.co.id. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.