Eva awalnya bercita-cita menjadi desainer interior setelah mengenyam pendidikan desainer interior di The Kent Institute of Art and Design di London. Ia sempat bekerja sebagai desainer interior. Namun ia menyadari profesinya terlampau luas, padahal ia lebih menginginkan sesuatu yang lebih personal. Matanya mulai terbuka pada desain produk saat ia mengunjungi pameran 100% Design di London. Ketika melihat produk dan furnitur yang menarik, Eva selalu bertanya di mana pabriknya. Dan jawabannya sama; Italia. Dari sana Eva yakin akan tekadnya untuk membuat lebih kecil dari desain interior. Sesuatu yang membuatnya sedikit bersentuhan dengan manusia. Ia kemudian memilih kuliah di Instituto Europeo di Design Milan, dan lulus pada 2006. Produk pertama yang dikerjakan adalah sebuah speaker yang diproduksi pada 2008.

Karir sebagai desainer industri dimulai saat ia bekerja di sebuah grup desain Italia pada proyek dan klien internasional seperti 3M Italia, 3M USA, Post-it, Command, Scotch, Scotch Brite dan Hormel Food Corporation. Eva merupakan bagian dari tim yang sukses mendesain proyek-proyek skala besar di dunia dan ia pun memiliki paten sebagai penemu alat pembersih yang dirancangnya untuk Scotch Amerika Serikat.

Pada 2009, Eva memutuskan tinggal di Ubud Bali dan berkarya secara mandiri. Masalah yang dihadapi Eva yakni pasar Indonesia yang lebih menyenangi produk yang 'berteriak'. Itulah mengapa produk-produk Eva Terlihat kalem. Kesulitanitu juga dialami saat meluncurkan seri pertama furniturnya, Lula yang diambil dari nama kucingnya. Meskipun berdesain sederhana, Lula memiliki standar desain, detail sambungan, konstruksi, dan kualitas material yang tinggi. Tanpa finishing pun Lula tetap bagus dilihat dari arah mana saja. Selain memiliki kualitas material yang baik, ia juga mengkhususkan Lula sesuai dengan anatomi tubuh orang Indonesia.