Desainer lulusan Teknik Produk Industri Institut Teknologi Bandung ini membawa wajah baru furnitur rotan dengan desainnya yang 'muda', modern, serta ambisinya untuk mengangkat martabat rotan menjadi bahan baku furnitur berkelas. Ambisinya tak pernah padam, bahkan semakin menggebu setelah karyanya masuk dalam jajaran koleksi Capellini, brand funitur besar asal Milan. “Ini bukan sekadar Abie Abdillah di Capellini loh, tapi lebih kepada rotan Indonesia masuk dan disejajarkan dengan furnitur karya desainer dunia lainnya,” kata Abie.

Masuknya ia dalam brand dunia memang cukup membanggakan, namun di atas semua itu, Abie memiliki cita-cita yang lebih besar lainnya, yakni membawa rotan Indonesia lebih bermartabat. Salah satu cara untuk mengejar cita-cita itu, Abie banyak mengikuti even internasional seperti ajang pameran di Singapura, Hongkong, Korea Selatan, Guangzhou. Bahkan beberapa menghasilkan award. Ajang terbaru yang telah diikuti Abie yakni The Triennale of Milan and Venice Architecture Bennale, April 2016, di mana karyanya dipamerkan dalam satu instalasi khusus bersama karya desainer dunia sekelas Shigeru Ban dan Zaha Hadid.

Persinggungan Abie dengan rotan bukan baru dimulai sejak bangku kuliah. Sejak kecil saat tinggal di Bandung, keluarganya memiliki satu set sofa rotan yang ketika dewasa ia sadari sebagai replika desain Isamu Kenmochi, desainer Jepang yang terkenal pada masa itu. Baru disaat kuliah, ketertarikan Abie akan rotan semakin terasah. Apalagi setelah ia menjadi 'penyusup' rombongan mahasiswa Desain Interior ITB saat melakukan kunjungan pabrik rotan di Cirebon. Saat kunjungan itu Yazuru Yamakawa, desainer dan pendiri PT Yamakawa Rattan berkata, “desainer Indonesia bila ingin dihargai dunia, jadilah desainer rotan.” Kata-kata itulah yang terus membekas hingga kini.

Saat tugas akhir, Abie membuat Madu Stool, yang terinspirasi dari sarang lebah. Karya Abie lainnya terdapat Pretzel Bench dan Loop Lounge Chair. Tak hanya rotan, Abie pun mendesain beberapa furnitur kayu seperti Tripod Stool dan Goda Armchair. Ini merupakan bentuk eksplorasi Abie saat ia mencapai titik jenuh dalam mendesain. Pada 2009, Abie mendirikan studionya sendiri yang diberi nama StudioHiji yang dalam bahasa Sunda berarti satu ini menjadi wadah Abie berkarya serta memasarkan produk yang didesainnya.