Irsa Consinita

Mengolah “Sesuatu” dengan Perasaan

Baru saja mendirikan kantor di bidang desain interior, namanya IT Design, Irsa Consinita sudah dipercaya mengerjakan beberapa proyek kantor, rumah dan vila. “Sebenarnya perolehan klien bukan dari saya saja, melainkan kumpulan rekan-rekan lainnya,” kata Irsa di salah satu ruang kantornya di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Menciptakan “sesuatu”

Nama “IT” atau “it” digunakan kantor desain ini dengan maksud sebagai “sesuatu”. “It itu kan sesuatu. Jadi kami menggarap 'sesuatu' itu menjadi makna yang mendalam bagi pemilik bangunan atau penghuni rumah. Menggarap dalam hal ini bisa menciptakan atau bisa juga mendesain,” jelas Irsa tentang makna nama kantor barunya.

Di kantor ini, Irsa memilikinya bersama dua rekan lain, serta dibantu oleh beberapa tenaga drafter dan tenaga administrasi yang menangani bisnisnya. “Kami baru mulai banget. Kantor ini baru berdiri Agustus lalu. Namun kami yakin karena masing-masing sudah memiliki pengalaman yang cukup banyak di kantor konsultan interior atau arsitektur sebelumnya,” kata Irsa yang pernah bekerja antara lain di Hadiprana Design Consultant, Andramatin Architect, dan Biro Desain Interior Garisprada.

Lebih menyukai desain interior

Irsa adalah seorang arsitek lulusan Institut Teknologi Indonesia yang mengawali karier arsiteknya di Hadiprana Design Consultant. “Waktu itu saya cuma kerja praktek di sana, dan yang saya kerjakan adalah proyek arsitektur kantor,” ungkap Irsa. Selanjutnya, cerita Irsa di Hadiprana adalah dikontrak menjadi karyawan, bukan sekadar peserta kerja praktek. “Dan entah mengapa saya diterjunkan ke bidang desain interior proyek yang ditangani perusahaan itu. Di situlah mulainya saya menangani desain interior dan saya menyukainya,” tambahnya.

Bagi Irsa, menariknya bidang interior adalah adanya unsur feeling. Bagaimana sebuah bangunan atau rumah atau bahkan ruangan membuat manusia merasa nyaman, sehingga bisa melangsungkan kehidupannya dengan bahagia. Hal ini sama seperti yang dirasakannya ketika kecil. “Dari kecil saya sudah menyukai interior. Space yang untuk saya pribadi, yaitu Kamar Tidur, saya olah sendiri, tentu saja waktu itu dengan meminta kepada orangtua saya,” cerita Irsa tentang cikal bakal kesukaannya pada bidang desain.

Meskipun kini Irsa lebih banyak mengerjakan proyek interior dan sangat menyukainya, namun Irsa tidak menyesali latar belakang pendidikannya di bidang arsitektur. “Dengan latar belakang arsitektur itu maka saya bisa mendesain interior lebih mendetail. Bisa tahu teknis bangunan itu sebelumnya. Dengan demikian saya bisa mengambil keputusan yang benar untuk mengatasi masalah-masalah di lapangan,” kata bungsu dari tiga bersaudara ini.